ASUHAN KEPERAWATAN TONSILITIS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA “An. T” DENGAN
POST OP TONSILITIS AKUT HARI KE-1 DIRUANG EDELWEIS
RUMAH SAKIT TK.II dr.SOEDJONO
MAGELANG
OLEH :
NAMA : TIARA ADELINA DAMAYANTI
NIS : 11.1786
TUGAS AKHIR
Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian Nasional
Tahun Pelajaran 2013/2014
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
KESDAM IV/DIPONEGORO
MAGELANG 2014
PERSETUJUAN
Tugas Akhir dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. T
DENGAN TONSILITIS AKUT HARI KE-1 DI RUANG EDELWEIS RUMAH
SAKIT TK.II dr. SOEDJONO
Telah mendapat persetujuan.
Disahkan oleh :
Kepala Sekolah
Isti Eko Rahayu S.Kep
NIP.
PENGESAHAN
Tugas akhir ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing untuk syarat mengikuti Ujian Nasional.
Magelang, Januari 2014
Pembimbing I
Siti Anifat, S.Kep
NIP.
Mengetahui
Kepala Ruang
Sriyono
Serma, NRP.3900158730669 Pembimbing II
Nurhayati
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. T DENGAN POST OP TONSILITIS AKUT HARI KE-1 DIRUANG SERUM RUMAH SAKIT TK.II dr. SOEDJONO MAGELANG.”
Tugas Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat kegiatan yang harus dilaksanakan oleh siswa SMK KESDAM IV/DIPONEGORO untuk mengaplikasikan teori yang didapat dibangku sekolah dan pelakanaan kegiatan di lapangan berhubungan langsung dengan pasien.
Terselesaikannya Tugas Akhir ini tidak hanya saya selesaikan seseorang, namun banvak pihak yang senantiasa menemani, membantu, dan mendukung diantaranya yaitu,
1. Kolonel CKM dr.Dwijo Pratignjo,Sp.M selaku Kepala Rumah Sakit TK.II dr.Soedjono.
2. Mayor CKM Mu'arifin,SE selaku Kepala Instalasi Pendidikan.
3. PNS Lilis Susiati,S.KM selaku Kepala Sekolah SMK KESDAM IV DIPONEGORO.
4. Serka Darsi,S.Kep selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan
5. PNS Lina Hastuti,S.Kep dan Ibu Indah Puspita Dewi,S.Kep selaku pembimbing dan penguji.
6. Danton Sutarno dan Danton Supano ynag senantiasa selalu memberikan kami nasihat, masukan, serta bimbingannya.
7. Semua Staf dan karyawan Pendidikan SMK KESDAM IV/DIPONEGORO yang telah membantu memperlancar proses pembuatan Tugas Akhir ini.
8. Kedua orang tua dan kakak yang selalu memberi doa, motivasi,dan dukungan moril ataupun materiil
9. Untuk seseorang tersayang yang selalu ada untuk penulis, selalu memberi semangat, motivasi, dan senantiasa menemani penulis dalam pengerjaan tugas-tugas.
10. Rekan-rekan saya di bangsal serta semua keluarga Kopaska yang sama--sama berjuang dan berdoa untuk kesuksesan dan keberhasilan kita dalam menghadapi ujian-ujian hingga finish.
11. Tak lupa untuk adik-adik yang telah memberikan doanya, sehingga tugas akhir ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mohon sedianya untuk memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Semoga KTI ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca yang mebaca karya tulis ini dan terutama bermanfaat bagi penulis sendiri.
Apabila dalam penulisan karya tulis ini ada kata-kata yang tidak berkenan dihati pembaca, mohon maklum serta maaf nya, karna sempurna hanya milik Allah semata dan kekurangan serta kesalahan adalah milik hamba-Nya.
Magelang, Januari 2013
Penullis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi
B. Etiologi
C. Pathofisiologi
D. Gambaran klinis
E. Homplikasi
F. Penatalaksanaan
G. Focus Pengkajian
H. Diagnos
I. Keperawatan
J. Focus Intervensi
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Biodata
B. 1. Keluhan Utama
2. Riwayat Penyakit Sekarang
3. Riwayat Penyakit Dahulu
4. Riwayat Penyakit Keluarga
5. Riwavat Pertumbuhan
6. Riwayat Perkembangan
C. Pemeriksaan Fisik
D. Data penunjang
E. Therapy
F. Pengumpulan Data
G. Analisa Data
H. Perumusan Diagnosa Keperawatan
I. Asuhan keperawatan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tonsil dikenal dimasyarakat sebagai penyakit amandel, merupakan penyakit yang sering dijumpai dimasyarakat sebagian besar terjadi pada anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa dan masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tau mengenai gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini.
Secara umum, penatalaksanaan tonsillitis dibagi menjadi dua, yaitu konservatif dan operatif. Terapi konservatif dilakukan untuk mungeliminasi kausa yaitu infeksi, dan mengatasi keluhan yang mengganggu bia tonsil membesar dan menyebabkan sumbatan jalan nafas, disfagia berat, gangguan tidur, terbentuk abses, atau tidak berhasil dengan pengobatan konvensional, maka operasi tonsilektomi perlu dilakukan. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibotik peroral (melalui mulut) selama 10 hari. Jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
Tonsillitis terjadi sebanyak lima kali atau lebih pertahun dalam kurun waktu dua tahun. Tonsillitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibotik, sehingga sering dilakukan pengangkatan dari tonsil atau sering disebut tonsilektomi. Criteria untuk bisa dilaksanakan tonsilektomi sekarang ini adalah bila terjadi 3 hingga 4 episode tonsillitis atau faringitis selama 1 atau 2 tahun. Tonsil perlu diambil 4 sampai 6 minggu setelah absese peritonsilar muncul (Charlene J. Reeves 2001).
Penyakit Tonsilitis Akut atau amandel tidak memungkiri kemungkinan jadi masalah di seluruh negara-negara di dunia termasuk di Negara Indonesia. Khususnya di Kota Magelang, penyakit ini masih banyak ditemukan disekitar rumah-rumah sakit Kota Magelang, salah satunya di Rumah Sakit TK.II dr.Soedjono Magelang pada penderita dengan penyakit tonsillitis akut atau amandel rata-rata 10% penderita telah dirawat pertahun dari seluruh jumlah pasien yang dirawat.
Kondisi sebelum operasi dan setelah operasi pada klien dengan tonsillitis mengalami gangguan klien yaitu nyeri pada saat menelan, menyebabkan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehingga perawat memberikan tindakan keperawatan, untuk mengatasi nyeri dengan cara mengajarkan teknik relaksasi dan distraksi mengingat banyaknya masalah yang bisa terjadi pada tonsillitis maka perhatian dan perawatan pada tonsillitis tidak boleh diabaikan agar terhindar dari komplikasi, berdasarkan kondisi tersebut, maka perawat perlu mengetahui tentang asuhan keperawatan pada tonsillitis agar dapat melakukan asuhan keperawatan dengan baik.
Berdasarkan masalah diatas maka penulis mengambil kasus Tonsilitis Akut untuk dijadikan sebagai bahan laporan Tugas Akhir atau Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Keperwatan klien dengan Tonsilitis Akut.
B. Tujuan Penulisan
• Tujuan Umum
Mampu menerapkan masalah serta hambatan yang timbul dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien tonsillitis akut.
• Tujuan Khusus
1. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien tonsillitis akut.
2. Mampu mengelompokkan data dan menganalisa data yang didapat dari pengkajian.
3. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien tonsillitis akut.
4. Mampu menyusun peerencanaan, intervensi, dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatanyang timbul pada klien tosilitis akut.
5. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada klien dengan tonsilitis akut.
6. Untuk memenuhi Tugas Akhir Sekolah.
C. Sistem Penulisan
Sistem penulisan Tugas Akhir Sekolah ini adalah sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi atau Pengertian
B. Etiologi
C. Pathofisiologi
D. Gambaran klinis
E. Komplikasi
F. Penatalaksanaan
G. Diagnose keperawatan
H. Fokus pengkajian
I. Fokus intervens
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Biodata K
B. eluhan utama
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat Pertumbuhan
Riwayat Perkembangan
C. Pemeriksaan fisik
D. Terapi
E. Pengumpulan data
F. Analisa data
G. Perumusan diagnose keperawatan sesuai prioritas
H. Asuhan keperawatan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definis
Tonsillitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri berlangsung sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam (Megantara,Imam 2006).
Tonsillitis Akut adalah radang akut yang disebabkan streptococcus beta hemolitikus, streptococcus viridens, streptococcus pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer,A.2000).
Tonsillitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat disebabkan oleh bakeri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing 2004).
Tonsillitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering ditemukan terutama pada anak-anak (Firman Sriyono, 2006)
B. Etiologi
Menurut Adam George (1991), tonsillitis bakterialis superalis akut paling sering disebabkan oleh streptococcus beta hemolitik grup A.
• Pneumococcus
• Staphylococcus
• Haemalphilus influenza
• Kadang streptococcus non hemolitik atau streptococcus viridens.
Menurut Iskandar N (1993), bakteri merupakan penyebab pada 50% kasus.
• Streptococcus B Hemolitikus grup A
• Streptococcus Viridens
• Streptococcus Pygenes
• Staphylococcus
• Pneumococcus
• Virus
• Adeno Virus
• ECHO
• Virus Influenza serta Herpes
C. Patofisiologi
Menurut Iskandar N (1993). Patofisiologi tonsillitis yaitu :
Kuman menginfiltrasikan lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoit superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poll morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas. Suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis lakunaris, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu maka tonsillitis lakunaris. Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga membentuk membrane semu (pseudo membran) sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karna prosese radang yang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoit terkikis. Sehingga pada prosese penyembuhan jaringan limfoit diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebur (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengkapan dengan jaringan sekitar fasa tonsilaris. Pada anak proses ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula.
D. Gambaran Minis
Menurut Megantara,Imam (2006)
Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang paling parah jika penderita menelan) nyeri sering kali dirasakan di telinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama).
Gejala lain:
a. Demam
b. Tidak enak badan
c. Sakit kepala
d. Muntah
e. Nyeri tenggorokan
f. Nyeri telan
g. Sulit menelan
h. Pembesaran tonsil
i. Edema faring
j. Mulut bau
Menurut Smilizer, Suzanne (2000)
Gejala yang timbul yaitu sakit tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan.
Menurut Hebing, (2002)
a. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan, hingga menjadi parah, sakit saat menelan, kadang-kadang muntah.
b. Tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit pada telinga.
c. Pada tonsillitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dn keluar nanah pada lekukan tonsil.
E. Komplikasi
Komplikasi tonsillitis akut dan kronik menurut Mansjoer,A (1999), antara lain yaitu :
a. Abses Pertonitis
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut biasanya disebaban oleh streptococcus grup A.
b. Otitis Media Akut
Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) clan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada rupture spontan gendang telinga.
c. Mastoiditis Akut
Rupture spontan gendang telinga lebih jauh menyebabkan infeksi ke sel-sel mastoid.
d. Laryngitis
e. Sinusitis
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tonsillitis secara umum, menurut Firman,S (2008)
a. Jika penyebabnya bakteri menggunakan antibiotic peroral (melalui mulut) selama 10 hari, jika mengalamikesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
b. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
• Tonsillitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih per tahun.
• Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih per tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
• Tonsillitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih per tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
• Tosilitis tidak memberika n respon terhadap pemberian antibiotic.
Menurut Mansjoer,A (1999) penatalaksanaan tonsillitis adalah :
a. Penatalaksanaan tonsillitis akut
• Antibiotic golongan penicillin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi diberi eritromisin.
• Antibiotic yang adekuat untuk encegah infeksi sekunder kortiosteroid untuk mengurangi edema oada laring dan obat sistomatik.
• Pasien di isollasi karena menular, tirah baring unuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorokan 3x negative.
• Pemberian antipiretik.
b. Penatalaksanaan tonssilitis kronik
• Terapi local untuk hygien mulut dengan obat kumur atau hisap.
• Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.
G. Fokus Pengkajian
a) Keluhan utama
Sakit tenggorokan, nyeri telan, demam.
b) Riwayat penyakit sekarang
Serangan, karakteristik, perkembangan, efek terapi, dll.
c) Riwayat penyakit dahulu
• Riwayat kelahiran
• Riwayat imunisasi
• Penyakit yang pernah diderita (faringitis berulang, ISPA, Otitis Media)
d) Pengkajian umum
Usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda-tanda vitral, dll.
e) Pernafasan
Kesulitan bernafas, batuk.
Ukuran tonsilberapa besarnya dinyatakan dengan :
• TO : bila sudah dioperasi
• T 1 : ukuran yang normal ada
• T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
• T3 : pembesaran tonsil sampai garis tengah
• T4 : pembesaran tonsil melewati garis tengah
f) Nutrisi
Sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan minum, turgor berkurang.
g) Aktivitas atau istirahat
Anak tampak lemah, latergi, iritabel, malaise. h) Keamanan atau kenyamanan
h) Kecemasan anak terhadap hospitalisasi
H. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada tonsillitis akut adalah :
a) Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
b) Nyeri berhubungan dengan post op.
c) Resiko perubahan status nutrisi kurnag dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia.
d) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
e) Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubugan dengan adanya obstruksi pada tuba eustaki.
L. Fokus Intervensi
a) Diagnosa Keperawatan :
Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
Intervensi:
a. Pantau suhu tubuh anak (derajat dan pola) perhatikan menggigil atau tidak
b. Pantau suhu lingkungan
c. Batasi penggunaan linen dan pakaian yang dikenakan klien
d. Berikan kompres hangat
e. Berikan cairan yang sangat banyak (1500-2000 cclhari)
f. Kolaborasikan pemberian antipiretik
b) Diagnosa Keperawatan :
Nyeri berhubungan dengan post op
Intervensi :
a. Pantau yeri klien (skala, intensitas, kedalaman, frekuensi)
b. Kaji TTV
c. Berikan posisi yang nyaman
d. Berikan teknik relaksasi dengan tarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkan pelan-pelan melalui mulut
e. Berikan teknik distraksi untuk mengalihkan perhatian anak
f. Kolaborasikan dengan pemberian analgetik
c) Diagnosa Keperawatan :
Reasiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia
Intervensi :
a. Kaji konjungtiva, sclera, turgor kulit
b. Timbang berat badan tiap hari
c. Berikan makan selagi hangat
d. Berikan makanan sedikit tapi sering
e. Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan
f. Kolaborasikan dengan pemberian vitamin penambah nafsu makan
d) Diagnosa Keperawatan :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
Intervensi :
a. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
b. Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas
c. Monitor TTV sebelum, selama, dan sesudah melakukan aktifitas e) Diagnosa Keperwatan:
Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustaki
Intervensi :
a. Kaji ulang gangguan pendegaran yang dialami pasien
b. Lakukan irigasi telinga
c. Berbicaralah dengan jelas dan pelan
d. Gunakan papan tulis / kertas untuk kominikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
e. Kolaborasi pemeriksaan audiometric
f. Kolaborasi pemberian tetes telinga
BAB III
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan tanggal : 9 Januari 2013 jam : 19.25
A. Biodata
a. Identitas Pasien
1) Nama
2) Pangkat / Gol
3) Kesatuan
4) Jenis kelamin
5) Pendidikan
6) Agama
7) Alamat
No. Rekam Medik
8) Tanggal Masuk RS :
:
:
:
:
:
:
:
: An. T Umur : 13 Th
Jamkesmas Nrp / Nip : -
-
Laki-laki
SMP
Islam
Mulyosari RT. I RW.1 Wonosobo
23.09.0808126
8 Januari 2013 Jam:12.30
b. Penanggung Jawab : Ny. S
1) Pekerjaan
2) Alamat
c. Dx Medis :
:
: Ibu Rumah Tangga
Mulyosari RT. 1 RW.I Wonosobo
Post Op Tonsilitis Akut Hari ke-1
B. Keluhan utama
Penyakit Riwayat Sekarang
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Keluarga
:
:
:
:
: Nyeri untuk menelan
Pasien baru datang via poli THT, dengan keluhan tenggorokan sakit untuk menelan, pendengaran telinga kanan samar-samar, kemudian dirawat di R.Seruni untuk persiapan operasi tanggal 9 Januari 2013. Pada saat pengkajian pasien mengeluh nyeri saat menelan, te)inga kanan masih terdengar samar-samar, badan terasa lemas.
Pasien belum pernah dirawat di RS
Pada saat pengkajian pasien mengeluh nyeri saat menelan, telinga kanan masih terdengar samar-samar, badan terasa lemas.
Pasien belum pernah dirawat di RS.
Dalam keluarga pasien tidak memiliki penyakit keturunan ataupun menular.
Riwayat Pertumbuhan
• Kehamilan
• Melahirkan
• Umur Kehamilan
• Imunisasi
Hepatitis)
Riwayat Perkembangan
Motorik
• Mengguling
• Duduk
• Merangkak
• Berjalan
Social Kognitif
• Kata pertaman yang diucapkan
Presepsi Kognitif
• Pola bicara
Persepsi dan konsep diri
• Penampilan :
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: 1
1
9 bulan
Lengkap (BCG, Polio, Campak)
7 bulan
9 bulan
12 bulan
17 bulan
“maa..maa..”
Lancer
baik
C. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Kesadaran
Tanda-tanda vital
BB
TB
IMT
Kepala
Lesi
Rambut
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Leher
Dada
Paru Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Exstremitas Atas
Bawah
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Sedang
Composmentis
TD = 110/80 mmHg
S = 36°C
RR = 24/menit
32 kg
135 cm
17,55
Mesochepal, tidak ada benjolan, tidak ada
Hitam pendek lurus, tidak aada ketombe,
tidak mudah dicabut
Konjungtiva tidak anemis, warna kornea
hitam, penglihatan normal, tidak
menggunakan alat bantu
Terdapat serumen pada telinga kanan,
pendengaran kurang baik, tidak
menggunakan alat bantu
Tidak terdapat secret, idak ada polip,
penciuman tidak terganggu
Penyebaran gigi merata, terdapat
caries,bibir nampak kering,tidak terdapat
stomatitis
Klien mengatakan sakit untuk menelan
pengembangan paru simetris
vocal vremitus kanan dan kiri normal
sonor
tidak terdengar wezing
Ictus cordis tidak tampak
Ictus cordis teraba pad amide line clavicula
terdengar pekak
tidak ada gallop, tidak ada murmur
perut datar, tidak ada lesi
tidak terjadi pembesaran hepar
tympani
tidak terjadi pembesaran hepar
pergerakan baik, tidak ada lesi, terpasang infuse RL di lengan kiri
turgor kulit baik, akral teraba hangat,
Warna sawo matang
Pengkajian nyeri
P : saat menelan
Q : seperti disayat
R : pada tonsil post op
S : 4
T : hilang timbul
D. Data Penunjang
a. Laboratorium
Tanggal 8 Januari 2013
HASIL NORMAL
WBC 6,8 103/mm3 (3.5-10.0)
RBC 13,1 103/mm3 (3.80- 5.80)
HGB 13,6 9/dL (11.0 - 16.5)
HTC 38,9 % (35.0 - 50.0)
PLT 581 103/mm3 (150-390)
MCV 73 µM3 (0,10-0,28)
MCH 25,4 Lpg (26.5 - 33.5)
MCHC 34,9 9/dL (31.5 - 35.0)
RDW 14,6 % (10.0 - 15.0)
MPV 6,9 µM3 (6.5-11.0)
PDW 12,7 % (10,0-14,0)
DIFF
% LYM 92 L% (17,0-48,0)
% MON 1,6 L % (4,0-10,0)
% GRA 89,2 H % (43,0-76,0)
#LYM 1,2 10/mm (1,2-3,2)
#MON 0,2 10/mm (0,3-0,8)
#GRA 12,7 H 10/mm (1,2-6,8)
b. Rontgen
• Thorax : Bronkitis
Besar ca normal
Sistema tulang baik
E. Therapi
Tanggal 9 januari 2013
• Inf RL 15 tpm
• Inj Dexametason 3x1
• Inj Kalmex 3x1
• Tramal 2x1
F. Pengumpulan data
a. Data subyektif
1) Pasien mengatakan nyeri tenggorokan saat menelan
2) Pasien mengatakan telinga kanan masih terdengar samar-samar
3) Pasien mengatakan lemas
b. Data obyektif
1) S : 360C, N : 98x/menit, RR : 24x/menit, TD : 110/80 mmHg
2) Mukosa bibir kering
3) Pasien nampak kesakitan saat menelan
4) Kesadaran pasien composmentis
5) Pasien nampak lemas
6) Jika diajak bicara pasien meminta untuk mengulang lebih keras perkataan kita
G. Analisa Data
NO DATA MASALAH ETIOLOGI
1. DS :
• Pasien mengatakan nyeri dan sakit untuk menelan
DO :
• Pasien nampak kesakitan saat menelan
• Pasien nampak gelisah
• P : saat menelan
• Q : seperti disayat
• R : pada tonsi post op
• S:4
• T : hilang timbul Nyeri akut Post op
2. DS :
• Pasien mengatakan telinga kanan masih samar-samar untuk mendengar
DO :
• Pasien meminta untuk mengulang lebih keras apa yang kita katakan Gangguan persepsi
sensori
(pendengaran) Adanya obstruksi
pada tuba eustakii
3. DS :
• Pasien mengatakan badannya lemas
DO :
• Pasien nampak lemas
• Pasien hanya duduk ditempat tidur Intoleransi
aktivitas Kelemahan
H. Perumusan diagnosa sesuai dengan prioritas
1) Nyeri akut dengan post op ditandai dengan DS : pasien mengatakan nyeri dan sakit untuk menelan
DO : pasien nampak kesakitan saat menelan, pasien nampak gelisah
P : saat menelan
Q : seperti disayat
R : pada tonsil post op
S:4
T : hilang timbul
2) Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan obstruksi pada tuba eustakii ditandai dengan
DS : pasien mengatakan telinga kanan masih smar-samar untuk mendengar
DO : pasien meminta untuk mengulag lebih keras apa yan kita katakana
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan DS : pasien mengatakan badannya lemas
DO : pasien nampak lemas, pasien hanya duduk ditempat tidur
Asuhan Keperawatan
Nama : An. I Dx medis : post op TA H ke-1
Umur : 13 tahun No. Reg : 23.09.0808126
Ruang : Seruni Tgl masuk : 8 Januari 2013
TGL/JAM DIAGNOSA PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
EVALUASI
PARAF
KEPERAWATAN TUJUAN RENCANA
9/1/2013
19.25
1. Nyeri berhubungn dengan post op, ditandai dengan : Pasien Nampak kesakitan saat menelan dan nampak gelisah
P : saat menelan
Q:seperti disayat
R : pada tonsil post op
S:4
T : hilang timbul Setelah dilakukan
tindakan
keperwatan selama
2x24 jam, masalah dapa teratasi sebagian, dengan criteria :
- Rasa nyeri berkurang
- Dapat menelan dengan baik 1. Kaji skala nyeri
2. Kaji TTV
3. Berikan posisi pasien yang nyaman
4. Berikan teknik relaksasi dengan tarik nafas panjang dengan hidung dan keluarkan lewat
5. Kolborasikan dengan pemberian anal genetik 1. Mengkaji skala nyeri
2. Mengkaji TTV
3. Memberikan posisi yang nyaman pada pasien
4. Memberikan teknik relaksasi dengan tarik nafas melalui hidung dan keluarkan lewat mulut
5. Kolaborasi dengan pemberian analgenetik S : pasien mengatakan
rasa nyeri berkurang
O : pasien nampak
lebih rilex
A : masalah teratasi
Sebagian
P : lanjutkan
intervensi
1. Kaji skala nyeri
2. Kolaborasi dengan pemberian analgetik
9/1/2013
19.25 1. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan obstruksi tuba eustakii, ditandai dengan : pasien meminta untuk mengulang apa yang kita katakan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, masalah gangguan pendengaran dapat teratasi dengan criteria :
- Pasien dapat mendengar kembali dengan normal 1. Kaji ulang gangguan yang dialami pasien
2. Lakukan irigasi Telinga
3. Kolaborasikan pemerikasaan audiometric
4. Kolaborasikan pemberian tetes telinga
5. Gunakan papan tulis atau kertas untuk membantu komunikasi apabila terdapat kesulitan dalam komunikasi 1. Mengkaji ulang gangguan yang dialami pasien
2. Melakukan irigasi telinga
3. Kolaborasi pemeriksaan audiometric
4. Kolaborasi pemberian tetes telinga
5. Menggunakan papan atau kertas dalam komunikasi apabila terdapat kesulitan dalam komunikasi S : pasien mengatakan
telinga kanan masih
samar-samar untuk
mendengar
O : pasien masih
memperhatikan orang yang mengajak bicara, dan kadang meminta untuk mengulanh perkataannya
A : masalah belum
teratasi
P : lanjutkan intervensi
1. Kaji ulang
2. Lakukan irigasi telinga
3. Kolaborasikan pemeriksaan audiometric
4. Kolaborasikan pemberian tetes telinga
9/1/2013
19.25 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ditandai dengan : Pasien Nampak lemas, pasien hanya duduk diatas tempat tidur Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, masalah dapat teratasi sebagian dengan criteria :
- Pasien dapat beraktivitasseperti biasanya 1. Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas
2. Observasi adanya kelelahan dalam melakukan kegiatan
3. Monitor TTV sebelum, selama dan setelah beraktivitas 1. Mengkaji kemampuan klien dalam beraktivitas
2. Mengobservasi adanya kelelahan dalam melakukan kegiatan
3. Memonitor TTV sebelum, selama, dan setelah beraktifitas S : pasien mengatakan
rasa lemasnya
berkurang
O : pasien nampak
lebih betenaga dari
sebelumnya
A : masalah teratasi
sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Monitor TTV sebelum, selama, dan setelah beraktivitas
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada An. T dengan Post Op Tonsilitis Akut di ruang Seruni Rumkit Tk. II dr. Soedjono Magelang. Selama pengkajian dilakukan dengan pendekatan berupa wawancara kepada pasien. Pada pengkajian yang dilakukan penulis memperoleh diagnose keperawatan sesuai dengan tinjauan teori.
Dalam teori ditemukan diagnose sebagai berikut :
1. Nyeri akut berhubunga dengan post op.
2. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi.
3. Resiko perubahan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
5. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan adanya obstruktur pada tuba eustakii.
Namun dalam pengkajian hanya ditemukan 3 diagnosa, yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan post op ditandai dengan pasien Nampak kesulitan menelan, Nampak gelisah.
P : saat menelan
Q : seperti disayat
R : pada tonsil post op
S : 4
T : hilang timbul
Dengan munculnya diagnose keperawatan diatas maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Mengkaji skala nyeri pasien
b. Mengkaji TTV
c. Memberikan posisi yang nyaman
d. Memberikan teknik relaksasi dengan tarik nafas panjang dengan hidung dan dikeluarkan melalui mulut.
e. Berkolaborasi dengan pemberian analgetik.
2. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan obstruksi pada tuba eustaki ditandai dengan pasien meminta untuk mengulang perkatann kita dengan munculnya diagnose kepeawatan diatas maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Mengkaji ulang gangguan yang dialami pasien
b. Melakukan irigasi
c. Berkolaborasi dengan pemeriksaan audiometic
d. Berkolaborasi pemberian tetes telinga
e. Menggunakan papan tulis atau kertas untuk komunikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan pasien Nampak lemas, pasien hanya duduk diatas tempat tidur
Dengan munculnya diagnose keperawatan diatas maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Mengkaji kemampuan klien dalam beraktivitas
b. Mengobservasi adanya kelelahan dalam melakukan kegiatan
c. Memonitor TTV sebelum, selama, setelah beraktivitas
BAB V
PENUTUP
Demikian dapat penulis sampaikan mengingat keterbatasan dan masih dalam tahap belajar, maka dengan segala kerendahan hati penulis membuka kritik dan saran untuk menjadikan penulis lebih baik dikemudian hari, khususnya : untuk pembuatan Tugas Akhir.
A. Kesimpulan
Setelah menyelesaikan tugas akhir ini , penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
Selama pengkajian hingga proses keperawatan pada pasien Post Op Tonsilitis Akut ini penulis dapat memahami dan menerapkan pendekatan proses asuhan keperawatan. Disamping itu penulis dapat menyusun dan implementasi pada pasien Post Op Tonsilitis Akut, serta dapat membuat diagnose keperawatan berdasarkan analisa data dan tinjauan teori. Dengan berpedomanpada tinjauan teori, penulis dapat memahami dan mengetahui keakuratan kebanaran sumber-sumber teori setelah dilakukannya keperawatan pada khusus Post Op Tonsilitis Akut. Jadi apapun yang bersifat pengetahuan, sebisa mungkin mempelajari teori. Karena teori merupakan hasil pengamatan dan penelitian oleh para ahli yang telah teruji keakuratannya. Dengan begitu, penulis masih harus banyak belajar sehingga mampu sistem pendokumentasian keperawatan yang benar dan nyata pada pasien Post Op Tonsilitis Akut
B. Saran
Dalam penulisan buku ini, penulis masih banyak memiliki kesalahan dan kekurangan karna itu penulis mengharapkan adaya kritik dan saran bagi kesempurnaan buku ini, dapat berguna :
1. melengkapi fasilitas kesehatan pada setiap instansi kesehatan
2. pemberian penyuluhan kesehatan dalam masyarakat, khususnya bagi pasien Post Op Tonsilitas Akut diharapkan diberikan perawatan yang lebih intensive agar lebih terpantau dalam proses keperawatan.
3. masyarakat jiga lebih tanggap tentang gejala awal penyakit-penyakit khususnya Post Op Tonsilitas Akut dan dicegah sesuai penyuluhan
4. melakukan penelitian dengan lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bronner dan Suddorth : Alih Bahasa. Agung Waluyo dkk. Editor Monica Ester, dkk Ed.8. Jakarta, EGC : 1999.
Doengoes, Marlynn E. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa I Made Kariasa Ed.3. Jakarta, EGC : 1999.
Efiaty Arsyad Soepardi dan Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Jakarta, Balai Penerbit, FKUI, 2001.
R. Sjasunhidajat dan Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi revisi. Jakarta, EGC, 1997
POST OP TONSILITIS AKUT HARI KE-1 DIRUANG EDELWEIS
RUMAH SAKIT TK.II dr.SOEDJONO
MAGELANG
OLEH :
NAMA : TIARA ADELINA DAMAYANTI
NIS : 11.1786
TUGAS AKHIR
Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Mengikuti Ujian Nasional
Tahun Pelajaran 2013/2014
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN
KESDAM IV/DIPONEGORO
MAGELANG 2014
PERSETUJUAN
Tugas Akhir dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. T
DENGAN TONSILITIS AKUT HARI KE-1 DI RUANG EDELWEIS RUMAH
SAKIT TK.II dr. SOEDJONO
Telah mendapat persetujuan.
Disahkan oleh :
Kepala Sekolah
Isti Eko Rahayu S.Kep
NIP.
PENGESAHAN
Tugas akhir ini telah diperiksa dan disetujui oleh pembimbing untuk syarat mengikuti Ujian Nasional.
Magelang, Januari 2014
Pembimbing I
Siti Anifat, S.Kep
NIP.
Mengetahui
Kepala Ruang
Sriyono
Serma, NRP.3900158730669 Pembimbing II
Nurhayati
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji syukur Kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA An. T DENGAN POST OP TONSILITIS AKUT HARI KE-1 DIRUANG SERUM RUMAH SAKIT TK.II dr. SOEDJONO MAGELANG.”
Tugas Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat kegiatan yang harus dilaksanakan oleh siswa SMK KESDAM IV/DIPONEGORO untuk mengaplikasikan teori yang didapat dibangku sekolah dan pelakanaan kegiatan di lapangan berhubungan langsung dengan pasien.
Terselesaikannya Tugas Akhir ini tidak hanya saya selesaikan seseorang, namun banvak pihak yang senantiasa menemani, membantu, dan mendukung diantaranya yaitu,
1. Kolonel CKM dr.Dwijo Pratignjo,Sp.M selaku Kepala Rumah Sakit TK.II dr.Soedjono.
2. Mayor CKM Mu'arifin,SE selaku Kepala Instalasi Pendidikan.
3. PNS Lilis Susiati,S.KM selaku Kepala Sekolah SMK KESDAM IV DIPONEGORO.
4. Serka Darsi,S.Kep selaku pembimbing yang telah memberikan bimbingan
5. PNS Lina Hastuti,S.Kep dan Ibu Indah Puspita Dewi,S.Kep selaku pembimbing dan penguji.
6. Danton Sutarno dan Danton Supano ynag senantiasa selalu memberikan kami nasihat, masukan, serta bimbingannya.
7. Semua Staf dan karyawan Pendidikan SMK KESDAM IV/DIPONEGORO yang telah membantu memperlancar proses pembuatan Tugas Akhir ini.
8. Kedua orang tua dan kakak yang selalu memberi doa, motivasi,dan dukungan moril ataupun materiil
9. Untuk seseorang tersayang yang selalu ada untuk penulis, selalu memberi semangat, motivasi, dan senantiasa menemani penulis dalam pengerjaan tugas-tugas.
10. Rekan-rekan saya di bangsal serta semua keluarga Kopaska yang sama--sama berjuang dan berdoa untuk kesuksesan dan keberhasilan kita dalam menghadapi ujian-ujian hingga finish.
11. Tak lupa untuk adik-adik yang telah memberikan doanya, sehingga tugas akhir ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mohon sedianya untuk memberikan kritik dan saran yang sifatnya membangun.
Semoga KTI ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca yang mebaca karya tulis ini dan terutama bermanfaat bagi penulis sendiri.
Apabila dalam penulisan karya tulis ini ada kata-kata yang tidak berkenan dihati pembaca, mohon maklum serta maaf nya, karna sempurna hanya milik Allah semata dan kekurangan serta kesalahan adalah milik hamba-Nya.
Magelang, Januari 2013
Penullis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi
B. Etiologi
C. Pathofisiologi
D. Gambaran klinis
E. Homplikasi
F. Penatalaksanaan
G. Focus Pengkajian
H. Diagnos
I. Keperawatan
J. Focus Intervensi
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Biodata
B. 1. Keluhan Utama
2. Riwayat Penyakit Sekarang
3. Riwayat Penyakit Dahulu
4. Riwayat Penyakit Keluarga
5. Riwavat Pertumbuhan
6. Riwayat Perkembangan
C. Pemeriksaan Fisik
D. Data penunjang
E. Therapy
F. Pengumpulan Data
G. Analisa Data
H. Perumusan Diagnosa Keperawatan
I. Asuhan keperawatan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tonsil dikenal dimasyarakat sebagai penyakit amandel, merupakan penyakit yang sering dijumpai dimasyarakat sebagian besar terjadi pada anak-anak, namun tidak menutup kemungkinan terjadi pada orang dewasa dan masih banyak masyarakat yang belum mengerti bahkan tidak tau mengenai gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini.
Secara umum, penatalaksanaan tonsillitis dibagi menjadi dua, yaitu konservatif dan operatif. Terapi konservatif dilakukan untuk mungeliminasi kausa yaitu infeksi, dan mengatasi keluhan yang mengganggu bia tonsil membesar dan menyebabkan sumbatan jalan nafas, disfagia berat, gangguan tidur, terbentuk abses, atau tidak berhasil dengan pengobatan konvensional, maka operasi tonsilektomi perlu dilakukan. Jika penyebabnya bakteri, diberikan antibotik peroral (melalui mulut) selama 10 hari. Jika mengalami kesulitan menelan, bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
Tonsillitis terjadi sebanyak lima kali atau lebih pertahun dalam kurun waktu dua tahun. Tonsillitis tidak memberikan respon terhadap pemberian antibotik, sehingga sering dilakukan pengangkatan dari tonsil atau sering disebut tonsilektomi. Criteria untuk bisa dilaksanakan tonsilektomi sekarang ini adalah bila terjadi 3 hingga 4 episode tonsillitis atau faringitis selama 1 atau 2 tahun. Tonsil perlu diambil 4 sampai 6 minggu setelah absese peritonsilar muncul (Charlene J. Reeves 2001).
Penyakit Tonsilitis Akut atau amandel tidak memungkiri kemungkinan jadi masalah di seluruh negara-negara di dunia termasuk di Negara Indonesia. Khususnya di Kota Magelang, penyakit ini masih banyak ditemukan disekitar rumah-rumah sakit Kota Magelang, salah satunya di Rumah Sakit TK.II dr.Soedjono Magelang pada penderita dengan penyakit tonsillitis akut atau amandel rata-rata 10% penderita telah dirawat pertahun dari seluruh jumlah pasien yang dirawat.
Kondisi sebelum operasi dan setelah operasi pada klien dengan tonsillitis mengalami gangguan klien yaitu nyeri pada saat menelan, menyebabkan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh sehingga perawat memberikan tindakan keperawatan, untuk mengatasi nyeri dengan cara mengajarkan teknik relaksasi dan distraksi mengingat banyaknya masalah yang bisa terjadi pada tonsillitis maka perhatian dan perawatan pada tonsillitis tidak boleh diabaikan agar terhindar dari komplikasi, berdasarkan kondisi tersebut, maka perawat perlu mengetahui tentang asuhan keperawatan pada tonsillitis agar dapat melakukan asuhan keperawatan dengan baik.
Berdasarkan masalah diatas maka penulis mengambil kasus Tonsilitis Akut untuk dijadikan sebagai bahan laporan Tugas Akhir atau Karya Tulis Ilmiah dengan judul Asuhan Keperwatan klien dengan Tonsilitis Akut.
B. Tujuan Penulisan
• Tujuan Umum
Mampu menerapkan masalah serta hambatan yang timbul dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien tonsillitis akut.
• Tujuan Khusus
1. Mampu melaksanakan pengkajian secara menyeluruh pada klien tonsillitis akut.
2. Mampu mengelompokkan data dan menganalisa data yang didapat dari pengkajian.
3. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien tonsillitis akut.
4. Mampu menyusun peerencanaan, intervensi, dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatanyang timbul pada klien tosilitis akut.
5. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan pada klien dengan tonsilitis akut.
6. Untuk memenuhi Tugas Akhir Sekolah.
C. Sistem Penulisan
Sistem penulisan Tugas Akhir Sekolah ini adalah sebagai berikut :
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
B. Tujuan Penulisan
C. Sistematika Penulisan
BAB II TINJAUAN TEORI
A. Definisi atau Pengertian
B. Etiologi
C. Pathofisiologi
D. Gambaran klinis
E. Komplikasi
F. Penatalaksanaan
G. Diagnose keperawatan
H. Fokus pengkajian
I. Fokus intervens
BAB III TINJAUAN KASUS
A. Biodata K
B. eluhan utama
Riwayat penyakit sekarang
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat Pertumbuhan
Riwayat Perkembangan
C. Pemeriksaan fisik
D. Terapi
E. Pengumpulan data
F. Analisa data
G. Perumusan diagnose keperawatan sesuai prioritas
H. Asuhan keperawatan
BAB IV PEMBAHASAN
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Definis
Tonsillitis adalah suatu penyakit yang dapat sembuh sendiri berlangsung sekitar lima hari dengan disertai disfagia dan demam (Megantara,Imam 2006).
Tonsillitis Akut adalah radang akut yang disebabkan streptococcus beta hemolitikus, streptococcus viridens, streptococcus pygenes, dapat juga disebabkan oleh virus (Mansjoer,A.2000).
Tonsillitis adalah radang yang disebabkan oleh infeksi bakteri kelompok A streptococcus beta hemolitik, namun dapat disebabkan oleh bakeri jenis lain atau oleh infeksi virus (Hembing 2004).
Tonsillitis adalah suatu peradangan pada hasil tonsil (amandel), yang sangat sering ditemukan terutama pada anak-anak (Firman Sriyono, 2006)
B. Etiologi
Menurut Adam George (1991), tonsillitis bakterialis superalis akut paling sering disebabkan oleh streptococcus beta hemolitik grup A.
• Pneumococcus
• Staphylococcus
• Haemalphilus influenza
• Kadang streptococcus non hemolitik atau streptococcus viridens.
Menurut Iskandar N (1993), bakteri merupakan penyebab pada 50% kasus.
• Streptococcus B Hemolitikus grup A
• Streptococcus Viridens
• Streptococcus Pygenes
• Staphylococcus
• Pneumococcus
• Virus
• Adeno Virus
• ECHO
• Virus Influenza serta Herpes
C. Patofisiologi
Menurut Iskandar N (1993). Patofisiologi tonsillitis yaitu :
Kuman menginfiltrasikan lapisan epitel, bila epitel terkikis maka jaringan limfoit superficial mengadakan reaksi. Terdapat pembendungan radang dengan infiltrasi leukosit poll morfonuklear. Proses ini secara klinik tampak pada korpus tonsil yang berisi bercak kuning disebut detritus. Detritus merupakan kumpulan leukosit, bakteri dan epitel yang terlepas. Suatu tonsillitis akut dengan detritus disebut tonsillitis lakunaris, bila bercak detritus berdekatan menjadi satu maka tonsillitis lakunaris. Bila bercak melebar, lebih besar lagi sehingga membentuk membrane semu (pseudo membran) sedangkan pada tonsillitis kronik terjadi karna prosese radang yang berulang maka epitel mukosa dan jaringan limfoit terkikis. Sehingga pada prosese penyembuhan jaringan limfoit diganti jaringan parut. Jaringan ini akan mengkerut sehingga ruang antara kelompok melebur (kriptus) yang akan diisi oleh detritus, proses ini meluas sehingga menembus kapsul dan akhirnya timbul perlengkapan dengan jaringan sekitar fasa tonsilaris. Pada anak proses ini ditandai dengan pembesaran kelenjar limfe submandibula.
D. Gambaran Minis
Menurut Megantara,Imam (2006)
Gejalanya berupa nyeri tenggorokan (yang paling parah jika penderita menelan) nyeri sering kali dirasakan di telinga (karena tenggorokan dan telinga memiliki persyarafan yang sama).
Gejala lain:
a. Demam
b. Tidak enak badan
c. Sakit kepala
d. Muntah
e. Nyeri tenggorokan
f. Nyeri telan
g. Sulit menelan
h. Pembesaran tonsil
i. Edema faring
j. Mulut bau
Menurut Smilizer, Suzanne (2000)
Gejala yang timbul yaitu sakit tenggorokan, demam, ngorok, dan kesulitan menelan.
Menurut Hebing, (2002)
a. Dimulai dengan sakit tenggorokan yang ringan, hingga menjadi parah, sakit saat menelan, kadang-kadang muntah.
b. Tonsil bengkak, panas, gatal, sakit pada otot dan sendi, nyeri pada seluruh badan, kedinginan, sakit kepala dan sakit pada telinga.
c. Pada tonsillitis dapat mengakibatkan kekambuhan sakit tenggorokan dn keluar nanah pada lekukan tonsil.
E. Komplikasi
Komplikasi tonsillitis akut dan kronik menurut Mansjoer,A (1999), antara lain yaitu :
a. Abses Pertonitis
Terjadi diatas tonsil dalam jaringan pilar anterior dan palatum mole, abses ini terjadi beberapa hari setelah infeksi akut biasanya disebaban oleh streptococcus grup A.
b. Otitis Media Akut
Infeksi dapat menyebar ke telinga tengah melalui tuba auditorius (eustochi) clan dapat mengakibatkan otitis media yang dapat mengarah pada rupture spontan gendang telinga.
c. Mastoiditis Akut
Rupture spontan gendang telinga lebih jauh menyebabkan infeksi ke sel-sel mastoid.
d. Laryngitis
e. Sinusitis
F. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tonsillitis secara umum, menurut Firman,S (2008)
a. Jika penyebabnya bakteri menggunakan antibiotic peroral (melalui mulut) selama 10 hari, jika mengalamikesulitan menelan bisa diberikan dalam bentuk suntikan.
b. Pengangkatan tonsil (tonsilektomi) dilakukan jika :
• Tonsillitis terjadi sebanyak 7 kali atau lebih per tahun.
• Tonsilitis terjadi sebanyak 5 kali atau lebih per tahun dalam kurun waktu 2 tahun.
• Tonsillitis terjadi sebanyak 3 kali atau lebih per tahun dalam kurun waktu 3 tahun.
• Tosilitis tidak memberika n respon terhadap pemberian antibiotic.
Menurut Mansjoer,A (1999) penatalaksanaan tonsillitis adalah :
a. Penatalaksanaan tonsillitis akut
• Antibiotic golongan penicillin atau sulfanamid selama 5 hari dan obat kumur atau obat isap dengan desinfektan, bila alergi diberi eritromisin.
• Antibiotic yang adekuat untuk encegah infeksi sekunder kortiosteroid untuk mengurangi edema oada laring dan obat sistomatik.
• Pasien di isollasi karena menular, tirah baring unuk menghindari komplikasi kantung selama 2-3 minggu atau sampai hasil usapan tenggorokan 3x negative.
• Pemberian antipiretik.
b. Penatalaksanaan tonssilitis kronik
• Terapi local untuk hygien mulut dengan obat kumur atau hisap.
• Terapi radikal dengan tonsilektomi bila terapi medikamentosa atau terapi konservatif tidak berhasil.
G. Fokus Pengkajian
a) Keluhan utama
Sakit tenggorokan, nyeri telan, demam.
b) Riwayat penyakit sekarang
Serangan, karakteristik, perkembangan, efek terapi, dll.
c) Riwayat penyakit dahulu
• Riwayat kelahiran
• Riwayat imunisasi
• Penyakit yang pernah diderita (faringitis berulang, ISPA, Otitis Media)
d) Pengkajian umum
Usia, tingkat kesadaran, antopometri, tanda-tanda vitral, dll.
e) Pernafasan
Kesulitan bernafas, batuk.
Ukuran tonsilberapa besarnya dinyatakan dengan :
• TO : bila sudah dioperasi
• T 1 : ukuran yang normal ada
• T2 : pembesaran tonsil tidak sampai garis tengah
• T3 : pembesaran tonsil sampai garis tengah
• T4 : pembesaran tonsil melewati garis tengah
f) Nutrisi
Sakit tenggorokan, nyeri telan, nafsu makan menurun, menolak makan dan minum, turgor berkurang.
g) Aktivitas atau istirahat
Anak tampak lemah, latergi, iritabel, malaise. h) Keamanan atau kenyamanan
h) Kecemasan anak terhadap hospitalisasi
H. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada tonsillitis akut adalah :
a) Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
b) Nyeri berhubungan dengan post op.
c) Resiko perubahan status nutrisi kurnag dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia.
d) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan.
e) Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubugan dengan adanya obstruksi pada tuba eustaki.
L. Fokus Intervensi
a) Diagnosa Keperawatan :
Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi.
Intervensi:
a. Pantau suhu tubuh anak (derajat dan pola) perhatikan menggigil atau tidak
b. Pantau suhu lingkungan
c. Batasi penggunaan linen dan pakaian yang dikenakan klien
d. Berikan kompres hangat
e. Berikan cairan yang sangat banyak (1500-2000 cclhari)
f. Kolaborasikan pemberian antipiretik
b) Diagnosa Keperawatan :
Nyeri berhubungan dengan post op
Intervensi :
a. Pantau yeri klien (skala, intensitas, kedalaman, frekuensi)
b. Kaji TTV
c. Berikan posisi yang nyaman
d. Berikan teknik relaksasi dengan tarik nafas panjang melalui hidung dan mengeluarkan pelan-pelan melalui mulut
e. Berikan teknik distraksi untuk mengalihkan perhatian anak
f. Kolaborasikan dengan pemberian analgetik
c) Diagnosa Keperawatan :
Reasiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
anoreksia
Intervensi :
a. Kaji konjungtiva, sclera, turgor kulit
b. Timbang berat badan tiap hari
c. Berikan makan selagi hangat
d. Berikan makanan sedikit tapi sering
e. Tingkatkan kenyamanan lingkungan saat makan
f. Kolaborasikan dengan pemberian vitamin penambah nafsu makan
d) Diagnosa Keperawatan :
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan
Intervensi :
a. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktivitas
b. Observasi adanya kelelahan dalam melakukan aktifitas
c. Monitor TTV sebelum, selama, dan sesudah melakukan aktifitas e) Diagnosa Keperwatan:
Gangguan persepsi sensori : pendengaran berhubungan dengan adanya obstruksi pada tuba eustaki
Intervensi :
a. Kaji ulang gangguan pendegaran yang dialami pasien
b. Lakukan irigasi telinga
c. Berbicaralah dengan jelas dan pelan
d. Gunakan papan tulis / kertas untuk kominikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
e. Kolaborasi pemeriksaan audiometric
f. Kolaborasi pemberian tetes telinga
BAB III
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN
Pengkajian dilakukan tanggal : 9 Januari 2013 jam : 19.25
A. Biodata
a. Identitas Pasien
1) Nama
2) Pangkat / Gol
3) Kesatuan
4) Jenis kelamin
5) Pendidikan
6) Agama
7) Alamat
No. Rekam Medik
8) Tanggal Masuk RS :
:
:
:
:
:
:
:
: An. T Umur : 13 Th
Jamkesmas Nrp / Nip : -
-
Laki-laki
SMP
Islam
Mulyosari RT. I RW.1 Wonosobo
23.09.0808126
8 Januari 2013 Jam:12.30
b. Penanggung Jawab : Ny. S
1) Pekerjaan
2) Alamat
c. Dx Medis :
:
: Ibu Rumah Tangga
Mulyosari RT. 1 RW.I Wonosobo
Post Op Tonsilitis Akut Hari ke-1
B. Keluhan utama
Penyakit Riwayat Sekarang
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Keluarga
:
:
:
:
: Nyeri untuk menelan
Pasien baru datang via poli THT, dengan keluhan tenggorokan sakit untuk menelan, pendengaran telinga kanan samar-samar, kemudian dirawat di R.Seruni untuk persiapan operasi tanggal 9 Januari 2013. Pada saat pengkajian pasien mengeluh nyeri saat menelan, te)inga kanan masih terdengar samar-samar, badan terasa lemas.
Pasien belum pernah dirawat di RS
Pada saat pengkajian pasien mengeluh nyeri saat menelan, telinga kanan masih terdengar samar-samar, badan terasa lemas.
Pasien belum pernah dirawat di RS.
Dalam keluarga pasien tidak memiliki penyakit keturunan ataupun menular.
Riwayat Pertumbuhan
• Kehamilan
• Melahirkan
• Umur Kehamilan
• Imunisasi
Hepatitis)
Riwayat Perkembangan
Motorik
• Mengguling
• Duduk
• Merangkak
• Berjalan
Social Kognitif
• Kata pertaman yang diucapkan
Presepsi Kognitif
• Pola bicara
Persepsi dan konsep diri
• Penampilan :
:
:
:
:
:
:
:
:
:
: 1
1
9 bulan
Lengkap (BCG, Polio, Campak)
7 bulan
9 bulan
12 bulan
17 bulan
“maa..maa..”
Lancer
baik
C. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
b. Kesadaran
Tanda-tanda vital
BB
TB
IMT
Kepala
Lesi
Rambut
Mata
Telinga
Hidung
Mulut
Leher
Dada
Paru Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Jantung Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Abdomen Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi
Exstremitas Atas
Bawah
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
Sedang
Composmentis
TD = 110/80 mmHg
S = 36°C
RR = 24/menit
32 kg
135 cm
17,55
Mesochepal, tidak ada benjolan, tidak ada
Hitam pendek lurus, tidak aada ketombe,
tidak mudah dicabut
Konjungtiva tidak anemis, warna kornea
hitam, penglihatan normal, tidak
menggunakan alat bantu
Terdapat serumen pada telinga kanan,
pendengaran kurang baik, tidak
menggunakan alat bantu
Tidak terdapat secret, idak ada polip,
penciuman tidak terganggu
Penyebaran gigi merata, terdapat
caries,bibir nampak kering,tidak terdapat
stomatitis
Klien mengatakan sakit untuk menelan
pengembangan paru simetris
vocal vremitus kanan dan kiri normal
sonor
tidak terdengar wezing
Ictus cordis tidak tampak
Ictus cordis teraba pad amide line clavicula
terdengar pekak
tidak ada gallop, tidak ada murmur
perut datar, tidak ada lesi
tidak terjadi pembesaran hepar
tympani
tidak terjadi pembesaran hepar
pergerakan baik, tidak ada lesi, terpasang infuse RL di lengan kiri
turgor kulit baik, akral teraba hangat,
Warna sawo matang
Pengkajian nyeri
P : saat menelan
Q : seperti disayat
R : pada tonsil post op
S : 4
T : hilang timbul
D. Data Penunjang
a. Laboratorium
Tanggal 8 Januari 2013
HASIL NORMAL
WBC 6,8 103/mm3 (3.5-10.0)
RBC 13,1 103/mm3 (3.80- 5.80)
HGB 13,6 9/dL (11.0 - 16.5)
HTC 38,9 % (35.0 - 50.0)
PLT 581 103/mm3 (150-390)
MCV 73 µM3 (0,10-0,28)
MCH 25,4 Lpg (26.5 - 33.5)
MCHC 34,9 9/dL (31.5 - 35.0)
RDW 14,6 % (10.0 - 15.0)
MPV 6,9 µM3 (6.5-11.0)
PDW 12,7 % (10,0-14,0)
DIFF
% LYM 92 L% (17,0-48,0)
% MON 1,6 L % (4,0-10,0)
% GRA 89,2 H % (43,0-76,0)
#LYM 1,2 10/mm (1,2-3,2)
#MON 0,2 10/mm (0,3-0,8)
#GRA 12,7 H 10/mm (1,2-6,8)
b. Rontgen
• Thorax : Bronkitis
Besar ca normal
Sistema tulang baik
E. Therapi
Tanggal 9 januari 2013
• Inf RL 15 tpm
• Inj Dexametason 3x1
• Inj Kalmex 3x1
• Tramal 2x1
F. Pengumpulan data
a. Data subyektif
1) Pasien mengatakan nyeri tenggorokan saat menelan
2) Pasien mengatakan telinga kanan masih terdengar samar-samar
3) Pasien mengatakan lemas
b. Data obyektif
1) S : 360C, N : 98x/menit, RR : 24x/menit, TD : 110/80 mmHg
2) Mukosa bibir kering
3) Pasien nampak kesakitan saat menelan
4) Kesadaran pasien composmentis
5) Pasien nampak lemas
6) Jika diajak bicara pasien meminta untuk mengulang lebih keras perkataan kita
G. Analisa Data
NO DATA MASALAH ETIOLOGI
1. DS :
• Pasien mengatakan nyeri dan sakit untuk menelan
DO :
• Pasien nampak kesakitan saat menelan
• Pasien nampak gelisah
• P : saat menelan
• Q : seperti disayat
• R : pada tonsi post op
• S:4
• T : hilang timbul Nyeri akut Post op
2. DS :
• Pasien mengatakan telinga kanan masih samar-samar untuk mendengar
DO :
• Pasien meminta untuk mengulang lebih keras apa yang kita katakan Gangguan persepsi
sensori
(pendengaran) Adanya obstruksi
pada tuba eustakii
3. DS :
• Pasien mengatakan badannya lemas
DO :
• Pasien nampak lemas
• Pasien hanya duduk ditempat tidur Intoleransi
aktivitas Kelemahan
H. Perumusan diagnosa sesuai dengan prioritas
1) Nyeri akut dengan post op ditandai dengan DS : pasien mengatakan nyeri dan sakit untuk menelan
DO : pasien nampak kesakitan saat menelan, pasien nampak gelisah
P : saat menelan
Q : seperti disayat
R : pada tonsil post op
S:4
T : hilang timbul
2) Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan obstruksi pada tuba eustakii ditandai dengan
DS : pasien mengatakan telinga kanan masih smar-samar untuk mendengar
DO : pasien meminta untuk mengulag lebih keras apa yan kita katakana
3) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan DS : pasien mengatakan badannya lemas
DO : pasien nampak lemas, pasien hanya duduk ditempat tidur
Asuhan Keperawatan
Nama : An. I Dx medis : post op TA H ke-1
Umur : 13 tahun No. Reg : 23.09.0808126
Ruang : Seruni Tgl masuk : 8 Januari 2013
TGL/JAM DIAGNOSA PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
EVALUASI
PARAF
KEPERAWATAN TUJUAN RENCANA
9/1/2013
19.25
1. Nyeri berhubungn dengan post op, ditandai dengan : Pasien Nampak kesakitan saat menelan dan nampak gelisah
P : saat menelan
Q:seperti disayat
R : pada tonsil post op
S:4
T : hilang timbul Setelah dilakukan
tindakan
keperwatan selama
2x24 jam, masalah dapa teratasi sebagian, dengan criteria :
- Rasa nyeri berkurang
- Dapat menelan dengan baik 1. Kaji skala nyeri
2. Kaji TTV
3. Berikan posisi pasien yang nyaman
4. Berikan teknik relaksasi dengan tarik nafas panjang dengan hidung dan keluarkan lewat
5. Kolborasikan dengan pemberian anal genetik 1. Mengkaji skala nyeri
2. Mengkaji TTV
3. Memberikan posisi yang nyaman pada pasien
4. Memberikan teknik relaksasi dengan tarik nafas melalui hidung dan keluarkan lewat mulut
5. Kolaborasi dengan pemberian analgenetik S : pasien mengatakan
rasa nyeri berkurang
O : pasien nampak
lebih rilex
A : masalah teratasi
Sebagian
P : lanjutkan
intervensi
1. Kaji skala nyeri
2. Kolaborasi dengan pemberian analgetik
9/1/2013
19.25 1. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan obstruksi tuba eustakii, ditandai dengan : pasien meminta untuk mengulang apa yang kita katakan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, masalah gangguan pendengaran dapat teratasi dengan criteria :
- Pasien dapat mendengar kembali dengan normal 1. Kaji ulang gangguan yang dialami pasien
2. Lakukan irigasi Telinga
3. Kolaborasikan pemerikasaan audiometric
4. Kolaborasikan pemberian tetes telinga
5. Gunakan papan tulis atau kertas untuk membantu komunikasi apabila terdapat kesulitan dalam komunikasi 1. Mengkaji ulang gangguan yang dialami pasien
2. Melakukan irigasi telinga
3. Kolaborasi pemeriksaan audiometric
4. Kolaborasi pemberian tetes telinga
5. Menggunakan papan atau kertas dalam komunikasi apabila terdapat kesulitan dalam komunikasi S : pasien mengatakan
telinga kanan masih
samar-samar untuk
mendengar
O : pasien masih
memperhatikan orang yang mengajak bicara, dan kadang meminta untuk mengulanh perkataannya
A : masalah belum
teratasi
P : lanjutkan intervensi
1. Kaji ulang
2. Lakukan irigasi telinga
3. Kolaborasikan pemeriksaan audiometric
4. Kolaborasikan pemberian tetes telinga
9/1/2013
19.25 2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan, ditandai dengan : Pasien Nampak lemas, pasien hanya duduk diatas tempat tidur Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, masalah dapat teratasi sebagian dengan criteria :
- Pasien dapat beraktivitasseperti biasanya 1. Kaji kemampuan klien dalam beraktivitas
2. Observasi adanya kelelahan dalam melakukan kegiatan
3. Monitor TTV sebelum, selama dan setelah beraktivitas 1. Mengkaji kemampuan klien dalam beraktivitas
2. Mengobservasi adanya kelelahan dalam melakukan kegiatan
3. Memonitor TTV sebelum, selama, dan setelah beraktifitas S : pasien mengatakan
rasa lemasnya
berkurang
O : pasien nampak
lebih betenaga dari
sebelumnya
A : masalah teratasi
sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Monitor TTV sebelum, selama, dan setelah beraktivitas
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam bab ini penulis akan membahas tentang asuhan keperawatan pada An. T dengan Post Op Tonsilitis Akut di ruang Seruni Rumkit Tk. II dr. Soedjono Magelang. Selama pengkajian dilakukan dengan pendekatan berupa wawancara kepada pasien. Pada pengkajian yang dilakukan penulis memperoleh diagnose keperawatan sesuai dengan tinjauan teori.
Dalam teori ditemukan diagnose sebagai berikut :
1. Nyeri akut berhubunga dengan post op.
2. Hipertermi berhubungan dengan inflamasi.
3. Resiko perubahan nutrisi sesuai dengan kebutuhan tubuh berhubungan dengan adanya anoreksia.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan.
5. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan adanya obstruktur pada tuba eustakii.
Namun dalam pengkajian hanya ditemukan 3 diagnosa, yaitu :
1. Nyeri akut berhubungan dengan post op ditandai dengan pasien Nampak kesulitan menelan, Nampak gelisah.
P : saat menelan
Q : seperti disayat
R : pada tonsil post op
S : 4
T : hilang timbul
Dengan munculnya diagnose keperawatan diatas maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Mengkaji skala nyeri pasien
b. Mengkaji TTV
c. Memberikan posisi yang nyaman
d. Memberikan teknik relaksasi dengan tarik nafas panjang dengan hidung dan dikeluarkan melalui mulut.
e. Berkolaborasi dengan pemberian analgetik.
2. Gangguan persepsi sensori (pendengaran) berhubungan dengan obstruksi pada tuba eustaki ditandai dengan pasien meminta untuk mengulang perkatann kita dengan munculnya diagnose kepeawatan diatas maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Mengkaji ulang gangguan yang dialami pasien
b. Melakukan irigasi
c. Berkolaborasi dengan pemeriksaan audiometic
d. Berkolaborasi pemberian tetes telinga
e. Menggunakan papan tulis atau kertas untuk komunikasi jika terdapat kesulitan dalam berkomunikasi
3. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan ditandai dengan pasien Nampak lemas, pasien hanya duduk diatas tempat tidur
Dengan munculnya diagnose keperawatan diatas maka dilakukan tindakan sebagai berikut :
a. Mengkaji kemampuan klien dalam beraktivitas
b. Mengobservasi adanya kelelahan dalam melakukan kegiatan
c. Memonitor TTV sebelum, selama, setelah beraktivitas
BAB V
PENUTUP
Demikian dapat penulis sampaikan mengingat keterbatasan dan masih dalam tahap belajar, maka dengan segala kerendahan hati penulis membuka kritik dan saran untuk menjadikan penulis lebih baik dikemudian hari, khususnya : untuk pembuatan Tugas Akhir.
A. Kesimpulan
Setelah menyelesaikan tugas akhir ini , penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
Selama pengkajian hingga proses keperawatan pada pasien Post Op Tonsilitis Akut ini penulis dapat memahami dan menerapkan pendekatan proses asuhan keperawatan. Disamping itu penulis dapat menyusun dan implementasi pada pasien Post Op Tonsilitis Akut, serta dapat membuat diagnose keperawatan berdasarkan analisa data dan tinjauan teori. Dengan berpedomanpada tinjauan teori, penulis dapat memahami dan mengetahui keakuratan kebanaran sumber-sumber teori setelah dilakukannya keperawatan pada khusus Post Op Tonsilitis Akut. Jadi apapun yang bersifat pengetahuan, sebisa mungkin mempelajari teori. Karena teori merupakan hasil pengamatan dan penelitian oleh para ahli yang telah teruji keakuratannya. Dengan begitu, penulis masih harus banyak belajar sehingga mampu sistem pendokumentasian keperawatan yang benar dan nyata pada pasien Post Op Tonsilitis Akut
B. Saran
Dalam penulisan buku ini, penulis masih banyak memiliki kesalahan dan kekurangan karna itu penulis mengharapkan adaya kritik dan saran bagi kesempurnaan buku ini, dapat berguna :
1. melengkapi fasilitas kesehatan pada setiap instansi kesehatan
2. pemberian penyuluhan kesehatan dalam masyarakat, khususnya bagi pasien Post Op Tonsilitas Akut diharapkan diberikan perawatan yang lebih intensive agar lebih terpantau dalam proses keperawatan.
3. masyarakat jiga lebih tanggap tentang gejala awal penyakit-penyakit khususnya Post Op Tonsilitas Akut dan dicegah sesuai penyuluhan
4. melakukan penelitian dengan lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA
Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Bronner dan Suddorth : Alih Bahasa. Agung Waluyo dkk. Editor Monica Ester, dkk Ed.8. Jakarta, EGC : 1999.
Doengoes, Marlynn E. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Alih Bahasa I Made Kariasa Ed.3. Jakarta, EGC : 1999.
Efiaty Arsyad Soepardi dan Nurbaiti Iskandar. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorokan Kepala Leher. Jakarta, Balai Penerbit, FKUI, 2001.
R. Sjasunhidajat dan Wim de Jong. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi revisi. Jakarta, EGC, 1997
Keren nih blognya.. Mampir juga ya ke blog saya http://www.askepjurnalkeperawatan.online/
BalasHapus