Penatalaksanaan Non-Farmakologi Diabetes Militus Pada Lansia
Lansia
merupakan populasi yang rentan terhadap gangguan metabolisme karbohidrat yang
dapat muncul sebagai Diabetes Mellitus (DM), tetapi gejala klinis DM pada
lansia seringkali bersifat tidak spesifik. DM pada lansia seringkali tidak disadari
hingga munculnya penyakit lain atau baru disadari setelah terjadinya penyakit
akut. Oleh sebab itu, upaya diagnosis dini melalui skrining terhadap DM pada
lansia perlu dilakukan.
Diagnosis
maupun tata laksana DM pada lansia tidak berbeda dengan pada populasi lainnya.
Rekomendasi tata laksana DM yang banyak digunakan saat ini adalah konsensus
ADA-EASD (2008) yang membagi obat-obatan untuk tatalaksana DM menjadi 2 tingkat
dan 3 langkah. Namun, lansia merupakan kelompok yang rentan terhadap terjadinya
efek samping obat-obatan. Oleh sebab itu, dalam tata laksana DM pada lansia
tidak dianjurkan menggunakan obat-obatan tingkat 2 yang belum banyak diteliti.
Tata laksana
DM pada lansia tidak hanya bertujuan mencapai kadar gula darah yang baik,
tetapi mencegah komplikasi kronik DM baik komplikasi makrovaskular maupun
mikrovaskular. Aspek khusus yang dikenal dengan nama sindrom geriatri yang juga
harus mendapat perhatian. Jadi, tata laksana DM pada lansia harus dilakukan
secara komprehensif.
Penatalaksanaa
DM non farmakologi terdiri dari beberapa macam. Pengelolaan Diabetes Mellitus
salah satunya dengan diet seimbang. Kendala penanganan diet Diabetes Mellitus
adalah kejenuhan pasien mengikuti terapi diet dan kurangnya dukungan keluarga.
Jika dukungan keluarga tidak ada, pasien Diabetes Mellitus akan tidak patuh
melaksanakan diet, sehingga Diabetes Mellitus tidak terkendali dan terjadi
komplikasi. Tujuan penelitian menganalisis dukungan keluarga meningkatkan
kepatuhan diet pasien Diabetes Mellitus. Rancangan penelitian ini cross
sectional dengan populasinya pasien Diabetes Mellitus di Ruang Rawat Inap RS.
Baptis Kediri yang memenuhi kriteria inklusi. Sampelnya 25 orang dengan
accidental sampling. Analisa data menggunakan uji “Wilcoxon Macth Pair”. Hasil
penelitian menunjukkan terbukti dukungan keluarga dapat meningkatkan kepatuhan
diet pasien Diabetes Mellitus di Ruang Rawat Inap RS. Baptis Kediri.
Bentuk
dukungan keluarga yang diberikan kepada pasien adalah berupa 1) Dukungan
informasional 2) Dukungan penilaian 3) Dukungan instrumental 4) Dukungan.
Efektivitas dukungan keluarga dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya adalah
Faktor Internal dan Faktor Eksternal. Faktor internal meliputi : 1) Tahap
perkembangan 2) Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan 3) Faktor Emosi 4) Faktor
Spiritual. Sedangkan Faktor eksternal meliputi : 1) Praktik di Keluarga berupa
cara bagaimana keluarga memberikan dukungan biasanya mempengaruhi penderita
dalam melaksanakan kesehatannya. 2) Faktor sosial dan psikososial3) Latar
belakang budaya. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus adalah perencanaan makan
(diet), latihan fisik, dan pengelobatan. Dalam menjalani terapi diet, dukungan
dalam keluarga sangatlah diperlukan agar pasien Diabetes Mellitus merasa nyaman
dan tentraman untuk menjalani diet Diabetes Mellitus. Selain itu pasien Diabetes Mellitus patuh
dalam melaksanakan perintah, mentaati aturan dan disiplin dalam menjalankan
program diet yang sudah ditentukan, sehingga komplikasi dapat dikendalikan.
Selain dukungan keluarga, tingkat
pengetahuan juga berpengaruh pada diet DM. Karena semakin tinggi pengetahuan
seseorang maka semakin mudah untuk menangkap dan menyerap informasi yang di
dapat. Bila lansia sudah paham dengan tentang diet DM terkait jumlah kalori,
jenis makanan dan jadwal makan
yang tepat maka komplikasi diet dapat diminimalkan.
Berdasarkan
hasil penelitian menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara sikap dengan
kepatuhan diet DM pada lanjut usia di Kelurahan Gayam Kecamatan Sukoharjo.
Hasil tersebut dibuktikan dengan nilai uji Chi Square ( χ2) 4,494 dan nilai
p-value = 0,040. Hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa sikap merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepatuhan
diet DM. Ketidakpatuhan terhadap diet DM menjadi faktor resiko memperberat
penyakitnya sehingga berdampak pada kelangsungan hidup penderita DM dan dapat
menyebabkan kadar gula tidak terkendali sehingga berakibat berbagai
komplikasi. Hasil penelitian ini sejalan
dengan penelitian oleh Phitri dan Widiyaningsih (2013),Menyimpulkan bahwa ada
hubungan sikap dengan kepatuhan diet diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit
Kalimantan Timur. Dibuktikan dengan hasil uji Chi Square sebesar 5,613 dengan
pvalue = 0,018 (pvalue<
0,05).Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian Abdulkadir (2014) tentang
Assesment of Knowledge, attitude, and practices regarding life style
modification amont type 2 diabetes
mellitus patients attending Adama Hospital Medical College, Oromia
Region, Ethiopia. Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat hubungan
pengetahuan, sikap dan praktek terhadap gaya hidup pasien diabetes tipe 2
Penatalaksanaan
DM non farmakologi lainnya yaitu dengan adanya senam. Hal ini dibuktikan dengan
adanya perubahan nilai kadar gula darah sebelum dan sesudah lansia diberikan
intervensi ( pengaruh senam kaki terhadap sensitivitas kaki pengidap diabetes )
di Kabupaten Magelang. Berdasar hasil
penelitian yang dilakukan menunjukkan perbedaan selisih mean rata-rata kadar
gula darah sebelum dengan sesudah intervensi pada kelompok intervensi lebih
tinggi dibanding selisih mean rata-rata sensitivitas kaki sebelum dengan
sesudah intervensi pada kelompok kontrol. Hal ini menggambarkan bahwa lansia
yang diberikan intervensi atau perlakuan senam kaki relatif memiliki nilai
kadar gula darah yang rendah darah. Nilai kadar gula darah yang rendah ini
menggambarkan terjadinya perbaikan nilai kadar gula darah setelah dilakukan
senam kaki. Penurunan kadar gula darah menunjukkan terjadinya penurunan tingkat
gangguan diabetes, karena tingkat keparahan diabetes melitus lansia akan
ditunjukkan dengan adanya kadar gula darah yang semakin tinggi, melebihi nilai
ambang batas normal.
Selain
penatalaksanaan non farmalkologi pengaruh senam kaki, ada latihan jasmani yang
lebih menyeluruh ke seluruh tubuh, tidaj ahanya di bagian kaki. Latihan fisik
atau jasmani dianjurkan secara teratur (3-4 kali seminggu) selama kurang lebih
30 menit, yang sifatnya sesuai continuous, rhythmical, interval, progressive,
endurance training (CRIPE). Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut
nadi maksimal (220 dikurangi umur), disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi
penyakit penyerta. Sebagai contoh olahraga ringan adalah berjalan kaki biasa
selama 30 menit, olahraga sedang adalah berjalan cepat selama 20 menit dan
olahraga berat misalnya jogging (Soegondo, et.,al, 2013). Olahraga pada
penderita DM tipe 2, berperan utama dalam pengaturan kadar glukosa darah.
Olahraga (senam) pada DM tipe 2,
berperan utama dalam pengaturan kadar glukosa darah. Produksi insulin
umumnya tidak terganggu terutama pada awal menderita penyakit ini. Masalah
utama pada DM tipe 2 adalah kurangnya respons reseptor terhadap insulin
(resistensi insulin), karena adanya gangguan tersebut insulin tidak dapat
membantu transfer glukosa ke dalam sel. Kontraksi otot memiliki sifat seperti
insulin (insulin-like effect). Permeabilitas membran terhadap glukosa meningkat
pada otot yang berkontraksi. Saat senam resistensi insulin berkurang,
sebaliknya sensitivitas insulin meningkat, hal ini menyebabkan kebutuhan
insulin pada diabetisi tipe 2 akan berkurang. Respons ini hanya terjadi setiap
kali senam, tidak merupakan efek yang menetap atau berlangsung lama, oleh
karena itu olahraga harus dilakukan terus menerus dan teratur. Olahraga pada DM
tipe 2 selain bermanfaat sebagai glycemic control juga bermanfaat untuk
menurunkan BB

Komentar
Posting Komentar